ANTARAJATIM

PORTAL BERITA JATIM


ANTARAJATIM.NET – JAKARTA. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memberikan penjelasan mengenai pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengajak masyarakat untuk membenci produk luar negeri.

Menurut Lutfi, ada latar belakang yang membuat Jokowi mengeluarkan pernyataan tersebut. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh berbagai kejadian perdagangan yang tidak adil terhadap pelaku  usaha khususnya UMKM Indonesia.

“Perlu saya luruskan di sini bahwa sebenarnya ada background yang menyertai pernyataan presiden, yaitu laporan saya kepada beliau tentang adanya praktik-praktik yang tidak sesuai dengan aturan perdagangan,” ujar Lutfi dalam konferensi pers, Kamis (4/3).

Baca Juga: Dorong TKDN, Jokowi sebut Indonesia jangan jadi korban raksasa digital dunia

Menurut dia, praktik-praktik ilegal perdagangan tersebut dijalankan oleh perusahaan-perusahaan e-commerce yang sudah mendunia. Salah satu praktik tersebut yakni predatory pricing, dimana langkah ini membunuh kompetisi di pasar.

Lutfi menyebut, Jokowi membenci praktik-praktik tersebut karena tidak memuaskan, sehingga menyebabkan Indonesia kehilangan UMKM yang sebenarnya memiliki prospek baik.

“Jadi saya ingin luruskan bahwa ini adalah laporan saya ketika memohon beliau untuk membuka acara raker perdagangan dua hari lalu, dan tadi sempat menjadi pembicaraan sebelum kita masuk ke dalam pembicaraan tersebut,” jelas Lutfi.

Lutfi pun membeberkan tulisan dari lembaga internasional yang dilaporkannya kepada Jokowi terkait hancurnya kegiatan UMKM, terutama produksi fesyen islam di Indonesia. Dari tulisan tersebut, disebutkan bahwa pada 2016-2018 sebuah industri rumah tangga yang memproduksi jilbab dan mempekerjakan lebih dari 3.400 tenaga kerja tidak bisa bersaing dengan produk asing lantaran harga yang ditawarkan jauh berbeda.

Dia menyebut, industri yang maju ini tersadap oleh artificial intelligence perusahaan digital asing, dimana informasi tersebut diserap kemudian produk jilbab tersebut diproduksi di China.

“Kemudian diimpor barangnya ke Indonesia, mereka membayar US$ 44.000  sebagai bea masuk, tetapi menghancurkan industri UMKM tersebut,” jelas Lutfi.

Setelah barang tersebut masuk ke Indonesia, jilbab tersebut hanya dihargai Rp 1.900 per helai melalui platform e-commerce. Menurut Lutfi, inilah yang disebut dengan predatory pricing. Menurutnya, karena hal ini UMKM Indonesia tidak bisa bersaing atas hal ini.

“Inilah yang menyebabkan kebencian dari produk asing yang diutarakan presiden karena kejadian-kejadian perdagangan yang tidak adil, tidak untungkan, dan tidak bermanfaat,” ujarnya.

 

 



Source link