ANTARAJATIM

PORTAL BERITA JATIM


ILUSTRASI. Aplikasi Clubhouse di App Store

Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

ANTARAJATIM.NET –¬†PEMILIK TikTok, ByteDance, sedang mengerjakan aplikasi mirip Clubhouse untuk China. Terinspirasi dari kesuksesan aplikasi obrolan audio asal Amerika Serikat (AS) tersebut.

Setidaknya selusin aplikasi serupa telah diluncurkan dalam sebulan terakhir, mengambil momentum pemblokiran Clubhouse di China pada awal Februari lalu.

Pengguna aplikasi Clubhouse mengalami lonjakan yang bergabung dalam obrolan tentang topik sensitif  seperti kamp penahanan Xinjiang dan kemerdekaan Hong Kong.

Penawaran baru termasuk pengerjaan ulang aplikasi Mi Talk Xiaomi Corp menjadi layanan audio khusus undangan yang ditargetkan untuk para profesional minggu lalu.

Kata eksekutif industri bahkan mengungkapkan lebih banyak lagi aplikasi yang sedang dikembangkan.

Baca Juga: Mirip Clubshouse, pengguna HP Android sebentar lagi bisa menjajal Twitter Spaces

Rencana ByteDance masih dalam tahap awal, kata dua sumber yang tidak berwenang untuk berbicara dengan media dan menolak disebutkan namanya.

Diskusi tentang TikTok dan ByteDance di Clubhouse telah memicu minat terhadap genre tersebut dari para eksekutif ByteDance termasuk CEO Zhang Yiming, kata salah satu sumber.

Seyangnya, ByteDance masih menolak berkomentar.

Keberhasilan Clubhouse, yang dapat menampung hingga 8.000 orang per ruang obrolan dan melihat diskusi antara CEO Tesla Inc Elon Musk dan CEO Robinhood Vlad Tenev berhasil meningkatkan jumlah pengguna, sebagai contoh potensi aplikasi ini.

Tetapi aplikasi serupa di China diharapkan memiliki karakteristik China yang akan mengakomodasi sensor dan pengawasan pemerintah.

Salah satu contohnya adalah aplikasi Zhiya Lizhi Inc yang terdaftar di Nasdaq yang diluncurkan pada 2018 dan penggunanya biasanya berbicara tentang video game atau menyanyikan lagu.

Baca Juga: Mirip Clubshouse, pengguna HP Android sebentar lagi bisa menjajal Twitter Spaces

Aplikasi ini membutuhkan registrasi nama asli, yang menurut CEO Lizhi, Marco Lai, adalah kunci di China.

Perusahaan streaming langsung audio di China mempekerjakan staf untuk mendengarkan percakapan di setiap ruangan dan menggunakan alat kecerdasan buatan (AI) untuk menyingkirkan konten yang “tidak pantas”, seperti pornografi atau masalah yang sensitif secara politik, katanya.

Seorang juru bicara Lizhi mengatakan Zhiya menggunakan manusia serta alat AI untuk mengatur percakapan publik di platform tersebut.

Aplikasi tersebut sempat dihapus oleh regulator China pada tahun 2019, tetapi diaktifkan kembali setelah Lizhi melakukan perbaikan.

Lai Lizhi mengatakan bahwa di luar politik ada banyak ruang untuk aplikasi obrolan audio di China.






Source link