ANTARAJATIM

PORTAL BERITA JATIM


ANTARAJATIM.NET – JAKARTA. Dituduh lakukan dumping baja oleh China, pelaku industri menilai tuduhan tersebut tidak akan mempengaruhi prospek kinerja industri baja di Tanah Air.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi sempat mengungkapkan kalau terdapat tuduhan dumping stainless steel Indonesia ke China. Di sisi lain, ekspor besi baja dari Tanah Air ke Negeri Tirai Bambu tersebut mencapai US$ 7 miliar di 2020.

Ketua Umum Iron and Steel Industry Association (IISIA) Silmy Karim mengungkapkan kalau produk baja stainless steel yang dituduh dumping merupakan produk yang diproduksi oleh Tsingshan Morowali, dengan bahan baku nickel ore.

Apalagi, dia menambahkan kalau permintaan stainless steel hanya 43 juta ton pe tahun, sementara demand untuk carbon steel dunia mencapai 1,8 miliar ton per tahun.

Baca Juga: Pada tahun ini, Saranacentral Bajatama (BAJA) bidik kenaikan volume penjualan 15%

Beragamnya produksi baja di Tanah Air, Silmy menjelaskan untuk baja stainless steel umumnya untuk keperluaan terbatas, misalnya untuk asessoris di kendaraan, sendok, garpu, pisau dan lainnya.

Sedangkan baja yang umum digunakan untuk kendaraan jenisnya adalah carbon steel, ada juga alloy steel (baja campuran/paduan) yang memiliki kekuatan lebih baik, namun untuk demand tidak banyak.

“Beda produk (dampaknya), bukan pukul rata. Dumping itu dikenakan atas produk,” jelas Silmy saat dikonfirmasi ANTARAJATIM, Jumat (5/3).

Ketua Umum IISIA sekaligus Direktur Utama PT Krakatau Steel tersebut juga mengungkapkan selama tahun pandemi perusahaannya masih mampu bertumbuh 20%. Harapannya, pemulihan ekonomi tahun ini mampu mendorong harga jual produk hot rolled coil (HRC) perusahaan dengan kode emiten KRAS ini naik 25%.

Didukung pula dengan proyeksi kenaikan cold rolled coil (CRC) 40% dan produk lainnya tumbuh 20% sepanjang tahun ini.

“Krakatau Steel produksnya saat ini kompetitif didukung program restrukturisasi, sehingga bisa bersaing dengan (baja) impor. Ditambah lagi keinginan pemerintah untuk menurunkan impor baja sampai 50%,” ungkapnya.

Sementara itu, Chief Strategy Officer Steel Pipe Industri of Indonesia (Spindo) Johannes Edward menilai kalaut tuduhan dumping baja tidak beralasan. Ditambah lagi, yang dituduh adalah produksi baja dari Tsingshan Stainless Steel yang memiliki kerjasama langsung dengan Negeri Tirai Bambu.



Source link