ANTARAJATIM

PORTAL BERITA JATIM


ILUSTRASI. Kata analis terkait capital outflow di obligasi di tengah aksi spekulatif asing

Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Noverius Laoli

ANTARAJATIM.NET –  JAKARTA. Ekonomi Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan perbaikan dalam beberapa waktu terakhir. Setelah sebelumnya, paket stimulus senilai US$ 1,9 triliun sudah disiapkan, kini data-data ekonomi seperti angka pengangguran dan angka inflasi telah menunjukkan perbaikan.

Dengan naiknya angka inflasi, pada akhirnya turut memicu kenaikan US Treasury dalam beberapa waktu terakhir. Rally ini bahkan sempat membuat US Treasury di level tertingginya yakni 1,56%.

Head of Fixed Income Sucorinvest Asset Management, Dimas Yusuf, mengatakan, kenaikan US Treasury memang berdampak langsung pada pasar obligasi Indonesia dengan ikutnya naik yield SBN acuan 10 tahun. Ditambah lagi, ia menilai momen Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan juga kurang tepat.

Dengan kenaikan yield US Treasury, lalu BI memangkas suku bunga, lantas spread antara SBN dengan US Treasury pun semakin tipis. Dimas melihat, kenaikan US Treasury memang berpotensi membuat terjadinya aksi capital outflow di pasar obligasi. Namun, ia masih cukup yakin, jika pun terjadi, jumlahnya tidak akan besar-besaran.

Baca Juga: Begini proyeksi ekonom terkait cadangan devisa beberapa bulan ke depan

“Secara magnitude (capital outflow) akan lebih kecil dibanding awal-awal pandemi Covid19  karena saat ini aksi investor masih cenderung bersifat spekulatif. Namun, ketika AS memang mengumumkan adanya tapering, barulah berpotensi terjadi capital outflow yang besar,” kata Dimas kepada ANTARAJATIM.NET, Minggu (7/3).

Senada, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto juga meyakini secara jangka pendek, tidak akan terjadi aksi jual investor asing di pasar obligasi. Menurutnya, kenaikan US Treasury dan perbaikan ekonomi AS lebih berdampak membuat investor asing untuk sementara waktu tidak melirik Indonesia.

“Investor asing sudah banyak keluar ketika pandemi Covid-19, jadi yang masih bertahan hingga saat ini, kemungkinan tidak akan keluar dari pasar obligasi. Tapi memang, karena selisih antara US Treasury dan yield SBN menipis, kemungkinan momen ini akan semakin menghambat investor asing untuk masuk ke SBN,” imbuh Ramdhan.

Baca Juga: Cadangan devisa Februari tertinggi sepanjang sejarah, begini pandangan ekonom

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di ANTARAJATIM Store.





Source link