ANTARAJATIM

PORTAL BERITA JATIM


ILUSTRASI. Seorang wajib pajak melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Wajib Pajak Besar di Jakarta, Senin (1/3/2021). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww.

Reporter: Yusuf Imam Santoso | Editor: Tendi Mahadi

ANTARAJATIM.NET – JAKARTA. Sistem Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) semakin buruk pada tahun lalu. Guna memperbaiki pelayanan pajak di tahun ini, otoritas telah melakukan berbagai perbaikan sistem TIK.

Berdasarkan Laporan Kinerja Ditjen Pajak 2020 realisasi tingkat downtime sistem TIK untuk tahun 2020 sebesar 0,0087%. Angka tersebut naik 0,0056% dibandingkan pencapaian tahun 2019 yang hanya 0,0031%. 

“Kenaikan tersebut menunjukkan adanya penurunan kualitas sistem manajemen informasi pada tahun 2020,” sebagaimana dikutip dalam Laporan Kinerja Ditjen Pajak yang baru dirilis pekan lalu. 

Baca Juga: Sri Mulyani dorong perempuan muda berjiwa pemimpin

Ditjen Pajak mengklaim hal itu disebabkan karena beberapa server tidak bisa diakses. Namun masih di bawah ambang batas yang dapat ditoleransi yaitu 0,10%. Pemburukan sistem TIK Ditjen Pajak diukur dari penggunaan pelayanan pajak pada e-filing, e-faktur, e-bupot, e-registration, e-billing, dan situs pajak.go.id.

Kondisi tersebut sejalan dengan tingkat kepatuhan wajib pajak badan dan wajib pajak orang pribadi non-karyawan pada tahun lalu, yakni masing-masing 60,17% dan 52,45%. Angka tersebut di bawah rata-rata tingkat kepatuhan formal sebesar 77,63%. 

Hanya saja, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Kemenkeu Neilmaldrin Noor mengklarifikasi sistem TIK yang makin buruk tersebut. Dia bilang penilaian downtime system TIK antara tahun 2019 dan 2020 berbeda. 

Salah satunya kriteria planned -unplanned downtime yang ditentukan oleh Pusat Sistem Informasi Teknologi Keuangan (Pusintek) Kemenkeu. Kata Neilmaldrin menyampaikan poin penilaian baru itu cukup signifikan, tetapi hal tersebut sebenarnya bukan menjadi hal utama. 

Baca Juga: Disokong pinjaman dan penerimaan pajak, cadev Februari 2021 capai US$ 138,8 miliar

“Yang pasti di awal tahun 2020 terjadi permasalahan pada jaringan yang sangat kompleks dan itu yang menyebabkan angka downtime sistem TIK menjadi tinggi,” ungkap Neilmaldrin kepada ANTARAJATIM.NET, Sabtu (6/3).

Neilmaldrin mengatakan tahun ini otoritas terus berupaya berbenah diri. Terlebih di periode awal tahun sangat menentukan menilai downtime TIK untuk keseluruhan tahun 2021. Sebab, di awal tahun sistem TIK difokuskan pada ketersediaan layanan pelaporan SPT secara daring yakni lewat e-filing.

“Akibatnya apabila di awal tahun terjadi downtime yang cukup lama maka walaupun bulan-bulan berikutnya tidak terjadi downtime, capaian downtime-nya akan tetap besar,” kata Neilmaldrin.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di ANTARAJATIM Store.





Source link