ANTARAJATIM

PORTAL BERITA JATIM


ILUSTRASI. Gas air mata dan gas pemadam api mengepul di sekitar demonstran dalam lanjutan untuk rasa menolak kudeta militer di Naypyitaw, Myanmar, 8 Maret 2021.

Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

ANTARAJATIM.NET – YANGON. Para aktivis dan pengunjuk rasa muda penentang kudeta militer Myanmar dilaporkan telah berhasl keluar dari kota Yangon pada hari Selasa (9/3). Sebelumnya ratusan orang ini dijebak oleh pasukan keamanan di distrik Yangon semalaman.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebelumnya juga menyerukan pembebasan semua pengunjuk rasa tanpa kekerasan atau penangkapan. Seruan ini diteruskan melalui kedutaan AS dan Inggris di Myanmar.

Dilansir dari Reuters, pada hari Senin (8/3) kepolisian distrik Sanchaung mengumumkan mereka akan memeriksa semua rumah untuk mencari pengunjuk rasa yang bersembunyi dan akan memberikan hukuman bagi pemilik rumah yang ketahuan menyembunyikan mereka.

Baca Juga: PBB: Sedikitnya 54 orang tewas, militer Myanmar harus berhenti membunuh pendemo

Salah satu aktivis, Shar Ya Mone, mengatakan ia bersembunyi di sebuah gedung dengan sekitar 15 hingga 20 orang lainnya semalaman sebelum akhirnya bisa pulang dengan selamat hari ini.

“Ada banyak tumpangan mobil gratis dan orang-orang menyambut pengunjuk rasa dengan baik. Kami berjanji akan terus berdemontrasi sampai kediktatoran berakhir,” ungkap Mone saat dihubungi Reuters.

Pengunjuk rasa lain juga diketahui telah berhasil meninggalkan distrik tersebut sekitar jam 5 pagi setelah pasukan keamanan mundur.

Sebuah kelompok hak advokasi mengatakan sekitar 50 orang telah ditangkap di Sanchaung setelah polisi menggeledah rumah-rumah warga. 

Kudeta militer Myanmar terhadap pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi telah mendorong Myanmar jatuh ke dalam kekacauan. Hingga saat ini, gelombang unjuk rasa anti-kudeta telah menewaskan lebih dari 60 pengunjuk rasa. Pihak keamanan juga menahan lebih dari 1.800 orang sejak kudeta terjadi 1 Februari.

Baca Juga: Singapura minta warga negaranya tinggalkan Myanmar, menyusul situasi kian mencekam






Source link