ANTARAJATIM

PORTAL BERITA JATIM


ILUSTRASI. Dana kelolaan atau assets under management (AUM) industri reksadana turun dalam sebulan terakhir.

Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Khomarul Hidayat

ANTARAJATIM.NET – JAKARTA. Dana kelolaan atau assets under management (AUM) industri reksadana turun dalam sebulan terakhir. Berdasarkan data yang baru dirilis Infovesta Utama, AUM industri reksadana turun Rp 5,34 triliun sepanjang bulan Februari 2021

Alhasil, total dana kelolaan industri reksadana hingga akhir bulan lalu mencapai Rp 548,18 triliun, turun dari bulan Januari 2021 yang sebesar Rp 553,47 triliun.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, selama Januari 2021 lalu, sebenarnya secara umum industri reksadana kondisinya relatif baik. Hanya saja, penurunan AUM yang dalam di reksadana pasar uang pada akhirnya ikut menekan total dana kelolaan industri reksadana.

“Dari reksadana pasar uang saja yang keluar hampir Rp 8 triliun. Jika dilihat, Desember 2020 saat itu jumlahnya sekitar Rp 92 triliun, lalu melonjak ke all time high di Januari menjadi Rp 100 triliun, dan Februari turun lagi jadi Rp 92 triliun. Jadi selama Januari, dana memang diparkirkan di reksadana pasar uang,” terang Wawan kepada ANTARAJATIM.NET, Rabu (10/3).

Baca Juga: Dana kelolaan reksadana pasar uang turun dalam sepanjang Februari 2021

Asal tahu saja, dana kelolaan reksadana pasar uang pada bulan Februari 2021 sebesar Rp 92,43 triliun turun 7,88% secara bulanan.

Wawan menambahkan, walaupun terjadi penurunan yang cukup dalam pada reksadana pasar uang, namun di sisi lain terjadi juga kenaikan AUM pada jenis reksadana lain. Hal ini menandakan investor tidak sepenuhnya keluar, namun juga switching ke produk lain.

Tercatat, ada kenaikan dana kelolaan di reksadana pendapatan tetap sebesar 1,51% menjadi Rp 128 triliun. Reksadana saham juga berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar Rp 848 miliar secara bulanan atau naik 0,69% menjadi Rp 122,93 triliun.

Wawan mengatakan, kenaikan AUM reksadana pendapatan tetap mengindikasikan optimisme pasar meningat beberapa waktu terakhir sebenarnyar pasar obligasi cenderung tertekan seiring dengan kenaikan yield US Treasury.

“Kondisinya memang anomali, padahal Bank Indonesia baru turunkan suku bunga, tapi harganya juga justru turun. Oleh karena ini itu, banyak investor yang mulai masuk (reksadana pendapatan tetap) secara valuasi juga memang murah,” imbuh Wawan.

Memasuki Maret 2021, ia menilai, reksadana pendapatan tetap berpotensi masih akan menarik dan bisa tumbuh, apalagi ketika volatilitas yang diakibatkan kenaikan imbal hasil US Treasury akan mereda. Reksadana saham juga akan bisa kembali tumbuh seiring Maret merupakan periode rilis laporan keuangan tahun 2020 serta periode bagi dividen. Hal ini akan jadi katalis positf untuk pasar saham.

“Oleh karena itu, besar kemungkinan pada Maret, dana kelolaan industri reksadana akan kembali ke level Rp 550 triliun,” imbuh Wawan.

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di ANTARAJATIM Store.





Source link