ANTARAJATIM

PORTAL BERITA JATIM


ILUSTRASI. Pengunjung berbelanja di sebuah gerai ritel modern di Jakarta. (ANTARAJATIM/Fransiskus Simbolon)

Reporter: Handoyo | Editor: Handoyo .

ANTARAJATIM.NET – JAKARTA. Pandemi Covid-19 telah berdampak besar pada bisnis sektor retail selama satu tahun. Ini tercermin dari same store sales growth atau SSSG sektor retail pada 9 bulan tahun 2020. Kondisi tahun lalu tentu berbeda dibandingkan tahun 2018 dan 2019 yang mengalami pertumbuhan. 

Data yang dihimpun dari Sinarmas Sekuritas, SSSG empat perusahaan retail yakni: PT Ace Hardware Indonesia (ACES) SSSG-nya pada tahun 2018 sebesar 13,5%, 2019 tumbuh 2,5% dan pada 9 bulan tahun 2020 sebesar -8,0%. 

Lalu, PT Mitra Adiperkasa (MAPI) pada tahun 2018 SSSG tumbuh 8%, 2019 SSSG tumbuh 4% dan pada 9 bulan tahun 2020  sebesar -33%.  PT Matahari Departement Store (LPPF) tahun 2018  SSSG tumbuh 2,9%, lalu tahun 2019 sebesar 6,7% dan 9 bulan tahun 2020 sebesar -57,2%. Terakhir, PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS) tahun 2018 SSSG tumbuh 3,5%, kemudian tahun 2019 tumbuh 0% dan 9 bulan tahun 2020 minus 57,7%. 

Equity Analyst Sinarmas Sekuritas Elvira Natalia menjelaskan, penurunan SSSG yang cukup dalam terjadi di LPPF dan RALS akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada Idul Fitri 2020. Kedua emiten retail tersebut mengandalkan pendapatan ketika momen hari raya. 

“Target pembeli kedua emiten tersebut berasal dari pekerja menengah dan pekerja menengah bawah, sementara pendapatan dari kelas pekerja menengah bawah berkurang” terang Elvira dalam siaran persnya.

Sementara untuk ACES penurunannya tidak terlalu dalam pada kuartal 3 2020 karena habit pembeli tidak terpengaruh pada momen-momen tertentu seperti hari raya. Sedangkan untuk MAPI, penurunan penjualan pada kuartal 3 2020 terjadi karena penutupan sejumlah toko terutama di sektor fashion dan sportswear MAPI karena PSBB. 

Baca Juga: Ada pembebasan pajak dividen, cermati rekomendasi saham emiten konglomerasi berikut

Di sisi lain, sejalan dengan distribusi vaksin yang semakin meluas dan terus dikejar oleh pemerintah, ekonomi berangsur-angsur menggeliat. Ini terlihat pada penjualan di restoran atau kafe, tempat wisata dan pusat perbelanjaan yang mengalami tren kenaikan. Elvira pun meyakini tahun depan sektor retail kembali normal seperti sediakala. 

“Potensi retail industri pulih sangat besar terutama bagi perusahaan yang sudah tap in techonology. Termasuk juga partnership dengan e-commerce dan memiliki website digital sendiri,” kata Elvira. 

Khusus untuk MAPI, Elvira menyebut dengan strategi tersebut akan mengikat pelanggan dan tidak langsung beralih brand lain. Walau, kontribusi penjualan digitalnya masih 5% dari total penjualan secara keseluruhan. 

Penetrasi Digital 

Di sisi lain penetrasi e-commerce di Indonesia semakin luas. Data Euromonitor menunjukkan pada tahun 2020 penetrasi e-commerce di Indonesia sebesar 6% meningkat secara bertahap dari tahun 2018 dan 2019 masing-masing sebesar 2% dan 3%. 

Yang menarik menurut Elvira, kondisi ini seperti kondisi delapan tahun lalu di China. Indonesia saat ini sedang mengalami shifting consumer behaviour dan membuat penjualan di e-commerce naik. Kabar tentang rencana initial public offering atau IPO e-commerce Tokopedia yang bergabung bersama Gojek dengan total target valuasi sebesar US$ 35 miliar-40 miliar, membuat perusahaan masuk dalam top 10 perusahaan Jakarta Composite Index (JCI).

Meski begitu, Elvira menilai potensi yang sangat besar di e-commerce ini memberikan peluang dan risiko. Misalnya pada peluang retail bisa memperluas sejumlah channel penjualan. Sedangkan risikonya, pembeli akan cenderung beralih ke barang substitusi yang murah. Sehingga perusahaan dengan segmen middle to low akan terkena dampak. 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di ANTARAJATIM Store.





Source link