ANTARAJATIM

PORTAL BERITA JATIM


ILUSTRASI. Migran Ethiopia, terdampar di Yaman yang dilanda perang, duduk di tanah di sebuah situs penahanan menunggu repatriasi ke negara asalnya, di Aden, Yaman 24 April 2019.

Sumber: Arab News | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

ANTARAJATIM.NET РSANAA. Seminggu pasca kebakaran besar di pusat penampungan imigran di Sanaa, Yaman, yang menewaskan puluhan orang, badan migrasi PBB menyatakan milisi Houthi adalah pihak yang harus bertanggungjawab.

Pada Minggu (14/3), International Organization for Migration (IOM) yang ada di bawah PBB meminta Houthi, yang didukung Iran, sepenuhnya bertanggungjawab atas kondisi di pusat penahanan migran. Dalam insiden tersebut, setidaknya 43 orang tewas dan lebih dari 200 lainnya luka-luka.

Direktur Jenderal IOM Antonio Vitorino mengatakan, kondisi fasilitas penampungan itu pada dasarnya memang tidak layak karena jumlah penghuninya tiga kali lipat melebihi kapasitas.

Baca Juga: Koalisi militer Arab Saudi gempur ibu kota Yaman, balas serangan Houthi

Sebelumnya, Houthi menuduh IOM lalai mengawasi fasilitas tersebut sehingga korban jiwa berjatuhan. Di sisi lain, IOM menyangkal tuduhan tersebut dengan mengatakan, fasilitas di Sanaa di luar kewenangan mereka.

“IOM tidak mendirikan, mengelola, atau mengawasi pusat penahanan di Yaman atau di mana pun di dunia,” ungkap Vitorino, seperti dikutip dari Arab News.

Kebakaran pada 7 Maret lalu menarik perhatian puluhan aktivis hak asasi serta pejabat pemerintahan. Mereka juga menuduh Houthi telah buru-buru menguburkan korban dan mengintimidasi pengungsi lainnya untuk menyembunyikan kebenaran.

Dilansir dari Arab News, jumlah korban tewas yang resmi dilaporkan sebanyak 43 orang, semuanya adalah migran dari Ethiopia, Eritrea, Djibouti, Somalia, dan Sudan. Ratusan lainnya dirawat karena menderita luka bakar dan gangguan pernapasan akibat menghirup asap.

Baca Juga: Tangki minyak Aramco di Arab Saudi kembali jadi sasaran rudal Houthi






Source link