ANTARAJATIM

PORTAL BERITA JATIM


ILUSTRASI. Bursa saham Asia. (Photo by Yoshio Tsunoda/AFLO) 

Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Tendi Mahadi

ANTARAJATIM.NET – JAKARTA. Jumlah investor tanah air terus bertumbuh meskipun di tengah sentimen pandemi. Per pertengahan Februari 2021, jumlah Single Investor Identification (SID) saham mencapai 2 juta akun. Jumlah ini naik 18,05% atau 306.020 SID dari akhir 2020 yang hanya sejumlah 1,69 juta akun.

Bahkan pada tahun lalu, jumlah SID saham melonjak 53,47% dari 1,1 juta SID pada akhir 2019.

Sebenarnya, fenomena pertumbuhan investor selama pandemi tidak hanya dialami bursa dalam negeri. Bursa Negara tetangga, Malaysia, juga mengalami pertumbuhan transaksi dan jumlah investor.

Baca Juga: IHSG diprediksi melemah, simak rekomendasi saham APLN hingga SRIL untuk Selasa (16/3)

Mengutip laman resmi Bursa Malaysia, nilai average daily trading value (ADV) sekuritas meningkat dua kali lipat, dari RM1,93 miliar di akhir 2019 menjadi RM4,21 miliar di akhir 2020.

Adapun investor ritel memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan likuiditas di bursa negeri Jiran tersebut. Pada 2020, ADV investor ritel telah meningkat sebesar 236% menjadi Rp 1,6 miliar, yang merupakan ADV ritel tertinggi dalam sejarah Bursa Malaysia.

Selain itu, sebanyak 65% dari total rekening Central Depository System (CDS) yang dibuka di Bursa Malaysia merupakan milik kaum milenial (usia 25-40 tahun).

Sementara di Amerika Serikat, gelombang baru investor ritel yang tak kenal takut, diperkirakan siap untuk menggelontorkan dana US$ 170 miliar ke dalam pasar saham, menurut laporan Deutsche Bank.

“Dengan potensi pembayaran stimulus langsung sebesar US$ 465 miliar sedang direncanakan, ini dapat mewakili arus masuk yang cukup besar ke pasar ekuitas, sebesar US$ 170 miliar,” kata Deutsche Bank dalam laporannya, 24 Februari 2021.

Baca Juga: Terkoreksi 0,53%, begini prediksi IHSG pada Selasa (16/3)

Analis Phillip Sekuritas Anugerah Zamzami Nasr menyebut, ada sejumlah faktor yang mendorong tumbuhnya minat berinvestasi di sejumlah bursa global.

Pertama, kemungkinan besar karena sektor riil yang kurang menguntungkan akibat pembatasan sosial selama pandemi. Alhasil, orang-orang mencoba peruntungan di sektor pasar modal.

Kedua, meningkatnya kepedulian (awareness) akan potensi pasar saham saat kondisinya sedang terjatuh. Hal ini didukung dengan pengaruh dari sosial media, forum investasi, dan mudahnya penyebaran arus informasi.

“Ketiga, mudahnya bertransaksi dengan kemudahan online melalui aplikasi, juga kemudahan membuka akun,” terang Zamzami kepada ANTARAJATIM.NET, Senin (15/3).

Selain itu, masyarakat juga belajar dari sejarah. Berkaca pada krisis 2008, dimana pasar saham sempat anjlok namun perlahan mulai bangkit bahkan mencetak all time high. Namun, hemat dia, pertumbuhan jumlah investor yang pesat saat ini lebih disebabkan oleh arus informasi yang lebih masif dan sangat terjangkau,  dengan menjamurnya pemakaian sosial media dan forum-forum daring.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di ANTARAJATIM Store.



Source link