ANTARAJATIM

PORTAL BERITA JATIM


ILUSTRASI. Fortinet.

Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi

ANTARAJATIM.NET – JAKARTA. Fortinet Indonesia menyebut sejak tahun 2020 transformasi digital berproses lebih cepat. Terlebih lagi, seiring pandemi Covid-19 hampir semua aspek kehidupan seperti bekerja, belanja, belajar dilakukan secara online. Hal itu, otomatis juga meningkatkan risiko terjadinya insiden keamanan siber yang datang dari 4 hal terkait transformasi digital.

Pertama, transformasi digital sendiri yang melahirkan permukaan baru (edge, aplikasi, ekosistem) yang jadi sasaran serangan siber. Kedua, kebijakan bekerja dari rumah (working from home) melahirkan teleworkers atau pekerja jarak jauh (yang menggunakan routers kelas rumahan, berbagi VPN, minimnya pemahaman dan kesadaran terkait keamanan siber) merupakan sasaran empuk para penjahat siber.

Ketiga, penggelaran 5G, yang menawarkan bandwith internet lebih tinggi, juga membawa risiko serangan siber yang lebih tinggi berupa arsitektur serangan yang datang dari segala penjuru (distributed), serangan siber yang datang lebih cepat, sedikitnya waktu yang tersedia untuk memberi respon serangan siber yang datang. Keempat, makin maraknya pemanfaatan komputasi awan juga membawa risiko yang meningkat terkait data integrity, kepatuhan pada peraturan (compliance), dan data privacy.

Baca Juga: Dapat suntikan dana, fintech Brick akan jangkau pasar di Asia Tenggara

“Fortinet, pemimpin global dalam solusi keamanan siber yang luas, terintegrasi dan otomatis, meramalkan 3 transformasi terkait keamanan siber di tahun 2021 ini. Pertama, adanya konvergensi antara network dan security yaitu transformasi digital membuat kegiatan mengakses dan menghantarkan data dan aplikasi dapat dilakukan dari mana saja. Kedua, adanya kebebasan memilih di lingkungan komputasi awan dengan cyber sovereignity (kedaulatan siber) jadi hal yang paling diutamakan. Ketiga, Edge (LAN, WAN, OT, cloud, home, Data) makin mengemuka dan dominan. Serta aplikasi-aplikasi baru lahir dengan cepat,” kata Edwin Lim, Country Director Fortinet dalam keterangannya, Kamis (18/3).

Edwin mengklaim Fortinet, dengan rangkaian produk yang memberikan perlindungan lengkap di seluruh permukaan digital terhadap serangan, memiliki kelebihan dibandingkan penyedia solusi keamanan siber yang lain. “Kami memiliki solusi FortiGuard Services dengan rangkaian produk lengkap yang dapat digunakan di lingkungan aplikasi, virtual machine, cloud, SaaS, dan software,” katanya.

Menurutnya kehandalan solusi Fortinet terbukti dari pengakuan yang diberikan lembaga riset Gartner di tahun 2020 lalu sebagai leader dalam 2 Magic Quadrant Reports untuk kategori Network Firewalls dan WAN Edge Infrastructure.

Pengakuan sebagai leader di industri keamanan siber itu, terang Edwin, diraih Fortinet berkat 4 pilar yang dijalankan dalam memberikan layanan keamanan siber bagi klien-klien level enterprise

Pilar pertama aspek keuangan, dengan memberikan penghematan capex, pengurangan TCO, mitigasi risiko, dan pilihan solusi lengkap mulai dari fisik, virtual dan cloud. Kedua, apek teknis meliputi punya kinerja terdepan di industri, operating systems yang ada dimana-mana, API yang lengkap, dan memberikan perlindungan yang efektif.

Baca Juga: Damri gandeng ShopeePay sediakan layanan pembayaran elektronik

Pilar ketiga, aspek operasional dengan adanya teknik pengaturan dan otomatisasi, manajemen terpusat, dan dukungan kelas enterprise bagi organisasi. “Terakhir, Transisi berupa optimalisasi kebijakan, layanan perubahan ke otomatisasi, dan penyediaan layanan yang minim sentuhan,” paparnya.

Menurut Badan Sandi dan Siber Negara (BSSN) ruang siber Indonesia selalu mengalami serangan siber, baik bersifat teknis dan sosial. Serangan siber bersifat teknis menargetkan sistem elektronik antara lain berupa: DOS dan DDOS, Phishing, SQL Injection, Brute Force Attack, dan Malware Attack. 

Sedangkan serangan siber bersifat sosial menargetkan social networking berupa pemalsuan dan pembocoran, potemkin villages of evidence, identitas palsu, trolling & flaming, disinformasi, hacking pseudo-sosial, hacking sosial, hacking socio-kognitif, serta humor & meme.

“Tahun 2020 lalu tercatat kurang lebih 495 insiden serangan siber, yang bersifat teknis dan sosial, terjadi di ruang siber Indonesia Dengan 9.749 kasus peretasan situs dan 90.887 kasus kebocoran data dari aktivitas malware pencuri informasi di Indonesia. Faktor penyebab kebocoran data adalah human error dan malicious (hacking, social engineering, dan malware),” ungkap Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian, Kepala BSSN, dalam acara yang sama.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di ANTARAJATIM Store.





Source link