ANTARAJATIM

PORTAL BERITA JATIM


ILUSTRASI. Warga membersihkan gabah dari jerami saat mencari gabah sisa panen di persawahan Desa Hadipolo, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (9/3/2021). Komisi IV DPR menolak rencana impor beras 1 juta ton.

Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Noverius Laoli

ANTARAJATIM.NET –  JAKARTA. Komisi IV DPR menolak rencana impor beras sebesar 1 juta ton lantaran produksi beras hingga Mei 2021 yang dianggap surplus. Hal ini disampaikan dalam kesimpulan rapat kerja dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, Kamis (18/3).

“Komisi IV DPR RI bersepakat dengan pemerintah c.q. Kementerian Pertanian bahwa produksi beras periode Januari sampai dengan Mei tahun 2021 surplus/memenuhi konsumsi dalam negeri. Sehingga Komisi IV DPR RI menolak rencana importasi beras sebanyak 1 juta ton pada saat panen raya maupun saat stok dalam negeri melimpah,” demikian poin kedua kesimpulan rapat tersebut.

Dalam rapat tersebut, anggota komisi IV DPR menyoroti terkait rencana impor beras ini. Salah satunya adalah Andi Akmal Pasluddin yang menolak rencana impor beras tersebut. Andi menilai, rencana impor ini kontradiktif dan alasan untuk melakukan tidak bisa diterima secara argumentatif.

“Karena kalau kita lihat dari data yang ada, data BPS, data stok, data ramalan produksi, kita surplus. Jadi saya kira tidak ada alasan, kecuali ingin memakmurkan petani negara lain silakan impor, tetapi petani dalam negeri menderita,” ujar Andi.

Baca Juga: Bulog: Cadangan beras pemerintah akan mencapai 1 juta ton di akhir April 2021

Hal senada juga disampaikan oleh anggota Komisi IV Julie Sutrisno. Dia meminta Kementan agar menjamin produksi beras mampu memenuhi kebutuhan beras nasional dan mengutamakan penyerapan gabah petani petani.

“Kami mendorong untuk mengutamakan penyerapan hasil panen petani dengan harga yang baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga semangat petani Indonesia untuk terus berproduksi,” ujarnya.

Dalam rapat tersebut, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa pasokan beras pada hingga Mei 2021 aman, bahkan ketersediaannya surplus lebih dari 12 juta ton.

Dari data prognosa dan ketersediaan kebutuhan pangan pokok pada periode Januari hingga Mei 2021 yang dibuat oleh Kementan, ketersediaan beras sebanyak 24,9 juta ton dan kebutuhannya sekitar 12,3 juta ton. Syahrul mengatakan, surplus beras tersebut terjadi karena adanya panen raya pada Maret-April 2021.

Baca Juga: Kementan klaim ketersediaan pangan aman hingga akhir Mei 2021

Di lain sisi, Perum Bulog tak banyak berkomentar terkait rencana impor ini. Sekretaris Perusahaan Perum Bulog, Awaluddin Iqbal, mengatakan, pihaknya tengah fokus melakukan penyerapan gabah/beras dalam negeri.

“Kami sekarang sedang fokus pada penyerapan beras dalam negeri karena sekarang sedang panen untuk memenuhi cadangan beras pemerintah. Kami tidak ingin berpolemik terkait dengan persoalan impor,” kata Awaluddin kepada ANTARAJATIM.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di ANTARAJATIM Store.





Source link