ANTARAJATIM

PORTAL BERITA JATIM


ILUSTRASI. Petugas merapikan mata uang rupiah di sebuah bank di Jakarta, Rabu (4/7). ANTARAJATIM/Cheppy A.Muclis/04/07/2018

Reporter: Bidara Pink | Editor: Tendi Mahadi

ANTARAJATIM.NET – JAKARTA. Di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global, nilai tukar rupiah turut melemah.  Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, per 17 Maret 2021, nilai tukar rupiah melemah 2,20% secara rerata dan 1,16% secara point to point dibandingkan dengan level Februari 2021. 

Dengan perkembangan tersebut, berarti dari akhir tahun 2020 hingga pertengahan bulan ini, rupiah mencatat depresiasi sekitar 2,62% ytd. 

Baca Juga: Selain kebijakan suku bunga acuan, ini 9 langkah kebijakan lanjutan Bank Indonesia

“Pelemahan nilai tukar rupiah tersebut dipengaruhi oleh kenaikan yield US Treasury (UST) dan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) yang kemudian menahan aliran masuk investasi portofolio asing ke pasar keuangan domestik,” ujar Perry via video conference Kamis (18/3). 

Meski melemah, Perry yakin pelemahannya relatif lebih rendah dari sejumlah negara emerging lain seperti Brasil, Meksiko, Korea Selatan, dan Thailand. 

Pun ke depan, Perry berjanji kalau bank sentral akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas pasar. 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di ANTARAJATIM Store.





Source link