ANTARAJATIM

PORTAL BERITA JATIM


ILUSTRASI. Presiden Rusia, Vladimir Putin, saat menyampaikan pidato di acara peringatan Hari Angkatan Laut di St.Petersburg, Minggu, 26 Juli 2020.

Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

ANTARAJATIM.NET –  MOSKOW. Rusia mendesak Amerika Serikat (AS) meminta maaf setelah Joe Biden mengatakan Vladimir Putin adalah pembunuh. Bahkan Rusia juga mengancam akan membalas Washington kecuali mendapat permohonan maaf.

Ketegangan ini merupakan buntut pernyataan Biden dalam wawancara ABC News yang disiarkan sehari sebelumnya. Dalam kesempatan itu, Biden mengatakan dia yakin Presiden Rusia itu seorang pembunuh.

Mengutip Reuters, Kamis (18/3), Biden juga menggambarkan Putin sebagai pribadi yang tak memiliki jiwa dan berjanji bahwa Putin akan membayar mahal atas dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan Presiden AS pada 2020, sesuatu yang dibantah Kremlin.

Merespons pernyataan Biden, Rusia melakukan langkah yang tidak biasa, yakni memanggil pulang duta besarnya untuk AS untuk konsultasi mengenai masa depan hubungan AS-Rusia.

Baca Juga: Joe Biden semakin memanaskan hubungan AS dengan Rusia

Wakil ketua majelis tinggi parlemen Rusia, Konstantin Kosachyov, mengatakan, komentar Biden tidak dapat diterima, pasti akan mengobarkan hubungan buruk, dan mengakhiri harapan di Moskow akan perubahan kebijakan AS di bawah pemerintahan AS yang baru.

Dia mengatakan penarikan kembali duta besar Moskow merupakan satu-satunya langkah yang masuk akal untuk diambil dalam situasi tersebut. “Saya menduga ini bukan yang terakhir jika tidak ada penjelasan atau permintaan maaf dari pihak Amerika,” kata Kosachyov dalam sebuah posting Facebook.

Sementara itu, Amerika Serikat mengatakan sedang mempersiapkan sanksi baru terhadap Rusia atas dugaan peretasan dan dugaan campur tangan pemilu.

Biden mengatakan kepada ABC, “Anda akan segera melihatnya” ketika ditanya konsekuensi apa yang akan dihadapi Rusia atas dugaan perilakunya.

 






Source link